Selasa, 20 November 2012

PROSES SOSIALISASI PADA ANAK USIA DINI


BAB I
PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang
Manusia adalah mahkluk sosial, untuk itu manusia memerlukan orang lain untuk dapat bertahan hidup. Manusia perlu mensosialisasikan dirinya dengan orang lain mengenai cara hidup, penyesuaian diri agar dapat berfungsi bagi orang lain. Proses sosialisasi ini merupakan suatu hal yang menjadi pusat penelitian dalam sosiologi pendidikan.
Beberapa ahli mengemukakan mengenai pengertian proses sosial, untuk itu pengertian tentang proses sosial diambil dari berbagai pendapat sehingga menghasilkan suatu pengertian secara utuh. Pembahasan tentang penyesuaian diri dilihat dari penyesuaian diri terhadap lingkungan fisik dan penyesuaian terhadap lingkungan sosial. Sedangkan pembahasan tentang beberapa factor yang mempengaruhi perkembangan sosial manusia dapat dikaji dari beberapa aspek
, misalnya pengaruh bawaan atau genetik dan pengaruh lingkungan atau gabungan dari kedua aspek tersebut. Pembahasan tentang perkembangan tingkah laku kelompok akan mengkaji dari aspek perkembangan anak terkait dengan kelompok tempat mereka melakukan interaksi sosial.
Manusia sebagai mahkluk sosial harus mampu beradaptasi dengan baik terhadap masyarakat sekitar, karena jika tidak maka individu tersebut akan dikucilkan oleh masyarakat. Untuk itu sangat penting bagi kita dalam mempelajari aspek-aspek yang berkaitan langsung dengan proses sosialisasi di lingkungan masyarakat.
Perkembangan Sosial Perkembangan sosial manusia mempunyai dua aspek, yaitu proses belajar sosial atau proses sosialisasi,dan proses pembentukan kesetiaan sosial. Ada dua dasar proses balajar sosial atau proses sosialisasi, yaitu sifat ketergantungan manusia terhadap manusia lain, dan sifat adaptabilita dan intelegensi manusia. Proses sosialisasi ini berlangsung secara terus menerus (sepanjang hidup). Sedangkan perkembangan kesetiaan sosial berlangsung secara stimulant dan saling pengaruh dengan proses sosilisasi. Dalam proses sosialisasi akan berkembang kesetiaan seseorang terhadap keluarga maupun kelompok atau organisasi tertentu.
Keluarga merupakan kelompok sosial terkecil dalam kehidupan manusia. Dalam lingkungan keluargalah manusia pertama kali belajar beradaptasi dan berinteraksi dengan orang lain. Untuk itulah, dalam menciptakan individu yang mampu melakukan proses sosialisasi dengan baik dibutuhkan lingkungan keluarga yang baik. Dengan bersosialisasi individu dapat mengerti, memahami, dan mempelajari tingkah laku, kebiasaan, keterampilan, dan sebagainya. Karena hal tersebut, individu membutuhkan bimbingan, dorongan yang positif agar dapat menjadi individu yang tangguh.

B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang maka dikemukakan rumusan masalah sebagai berikut :
1.      Apa itu proses sosialisasi dan batasan –batasan tentang proses sosialisasi.
2.      Apa sajakah Faktor – faktor yang mempengaruhi sosialisasi?
3.      Apa Tujuan sosialisasi?
4.      Bagaimana aspek perkembangan tingkah laku sosial manusia?
5.      Bagaimanakah proses perkembagan tingkah laku kelompok?

C.     Batasan Masalah

1.      Batasan – batasan tentang proses sosialisasi.
2.      Faktor – faktor yang mempengaruhi sosialisasi
3.      Tujuan sosialisasi
4.      Aspek - aspek perkembangan tingkah laku sosial manusia
5.      Proses perkembangan tingkah laku kelompok.



BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A.     Batasan – batasan tentang Proses Sosialisasi
Sosialisasi adalah sebuah proses penanaman atau transfer kebiasaan atau nilai dan aturan dari satu generasi ke generasi lainnya dalam sebuah kelompok atau masyarakat. Sosialisasi diartikan sebagai sebuah proses seumur hidup bagaimana seorang individu mempelajari kebiasaan-kebiasaan yang meliputi cara-cara hidup, nilai-nilai, dan norma-norma social yang terdapat dalam masyarakat agar dapat diterima oleh masyarakat.
 Menurut havinghurst dan neugarten (dalam Vembrianto, 1982:19). Proses sosialisasi adalah proses belajar.
Menurut R.S. lazarus (dalam Vembrianto, 1982: 20), proses sosialisasi adalah proses akomodasoi dimana individu menghambat/ mengubah impuls – impuls sesuai dengan tekanan  lingkungan dan mengembangkan pola pola nilai dan tingkah laku yang baru sesuai dengan kebudayaan masyarakat.
David popenoe (dalam Vembrianto, 1982:20) berpendapat bahwa proses sosialisasi dipandang sebagai usaha memasukan pengaruh kebudayaan ke  dalam diri individu dan bukannya sebagai usaha individu untuk mempelajarfi kebudayaan masyarakat.
Dari batasan- batasan tersebut, dapat ditarik kesimpulan :
·         Proses sosialisasi adalah proses belajar yaitu suatu proses akomodasi dengan mana individu menahan, mengubah impuls – impuls dalam dirinya dan mengambil cara hidup atau kebudayaa masyarakat.
·         Dalam proses sosialisasi itu individu mempelajari kebiasaan, sikap ide – ide, pola – pola nilai dan tingkah laku  

B.     Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Sosialisasi
Dalam proses sosialisasi individu berkembang menjadi suatu pribadi atau makhluk sosial. Menurut Robbins dan Vembriarto (1978), perkembangan kepribadian manusia dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya :
1. Sifat dasar, adalah sifat-sifat yang diwarisi individu dari kedua orang tuanya. Sifat dasar ini banyak dipengaruhnya dalam perkembangan kepribadian individu.
2. Lingkungan pranatal, adalah lingkungan sebelum kelahiran atau sewaktu individu berada dalam kandungan. Pada masa ini perkembangan individu dipengaruhi beberapa faktor diantaranya :
a. Beberapa jenis penyakit
b. Gangguan endokrin yang dapat menyebabkan keterbelakangan psikologis perkembangan anak
c. Struktur pada tubuh ibu
d. Rasa kaget ketika kelahiran
3. Perbedaan individu, meskipun individu berkembang dalam lingkungan masyarakat yang sama namun tidak seorangpun individu tersebut yang sama kepribadiannya. Hal ini disebabkan akibat keunikan yang dimiliki masing-masing individu. Perbedaan ini mencakup segi fisik, fisiologis, ciri mental dan emosional.
4. Lingkungan, adalah kondisi di sekitar individu yang mempengaruhi sosialisasinya, yang dapat dibedakan lingkungan alam, budaya, manusia lainnya, dan masyarakat.
5. Motivasi, adalah kekuatan-kekuatan atau dorongan yang menyebabkan individu berbuat. Motivasi dibedakan atas dua dari dalam diriindividu yang disebut motif serta dari luar diri diri individu baik dari orang lain maupun keompok ataupun masyarakat. Tingkah laku individu dipengaruhi oleh motivasi dimana individu itu berbuat, apa tujuan serta harapannya, semua itu akan tercermin dalam tingkah lakunya.
Perkembangan sosial manusia dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu: keluarga, kematangan anak, status ekonomi keluarga, tingkat pendidikan, dan kemampuan mental terutama emosi dan inteligensi.

a. Keluarga
Keluarga merupakan lingkungan pertama yang memberikan pengaruh terhadap berbagai aspek perkembangan anak, termasuk perkembangan sosialnya. Kondisi dan tata cara kehidupan keluarga merupakan lingkungan yang kondusif bagi sosialisasi anak. Di dalam keluarga berlaku norma-norma kehidupan keluarga, dan dengan demikian pada dasarnya keluarga merekayasa perilaku kehidupan budaya anak.
Proses pendidikan yang bertujuan mengembangkan kepribadian anak lebih banyak ditentukan oleh keluarga. Pola pergaulan dan bagaimana norma dalam menempatkan diri terhadap lingkungan yang lebih luas ditetapkan dan diarahkan oleh keluarga.

b. Kematangan anak
Bersosialisasi memerlukan kematangan fisik dan psikis. Untuk mampu mempertimbangan dalam proses sosial, memberi dan menerima pendapat orang lain, memerlukan kematangan intelektual dan emosional. Di samping itu, kemampuan berbahasa ikut pula menentukan. Dengan demikian, untuk mampu bersosialisasi dengan baik diperlukan kematangan fisik sehingga setiap orang fisiknya telah mampu menjalankan fungsinya dengan baik.

c. Status Sosial Ekonomi
Kehidupan sosial banyak dipengaruhi oleh kondisi atau status kehidupan sosial keluarga dalam lingkungan masyarakat. Masyarakat akan memandang anak, bukan sebagai anak yang independen, akan tetapi akan dipandang dalam konteksnya yang utuh dalam keluarga anak itu. “ia anak siapa”. Secara tidak langsung dalam pergaulan sosial anak, masyarakat dan kelompoknya dan memperhitungkan norma yang berlaku di dalam keluarganya.
Dari pihak anak itu sendiri, perilakunya akan banyak memperhatikan kondisi normatif yang telah ditanamkan oleh keluarganya. Sehubungan dengan itu, dalam kehidupan sosial anak akan senantiasa “menjaga” status sosial dan ekonomi keluarganya. Dalam hal tertentu, maksud “menjaga status sosial keluarganya” itu mengakibatkan menempatkan dirinya dalam pergaulan sosial yang tidak tepat. Hal ini dapat berakibat lebih jauh, yaitu anak menjadi “terisolasi” dari kelompoknya. Akibat lain mereka akan membentuk kelompok elit dengan normanya sendiri.

d. Pedidikan
Pendidikan merupakan proses sosialisasi anak yang terarah. Hakikat pendidikan sebagai proses pengoperasian ilmu yang normatif, akan memberikan warna kehidupan sosial anak di dalam masyarakat dan kehidupan mereka di masa yang akan datang. Pendidikan dalam arti luas harus diartikan bahwa perkembangan anak dipengaruhi oleh kehidupan keluarga, masyarakat, dan kelembagaan. Penanaman norma perilaku yang benar secara sengaja diberikan kepada peserta didik yang belajar di kelembagaan pendidikan(sekolah). Kepada peserta didik bukan saja dikenalkan kepada norma-norma lingkungan dekat, tetapi dikenalkan kepada norma kehidupan bangsa(nasional) dan norma kehidupan antarbangsa. Etik pergaulan membentuk perilaku kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

e. Kapasitas Mental, Emosi, dan Integensi

Kemampuan berpikir banyak mempengaruhi banyak hal, seperti kemampuan belajar, memecahkan masalah, dan berbahasa. Anak yang berkemampuan intelektual tinggi akan berkemampuan berbahasa secara baik. Oleh karena itu kemampuan intelektual tinggi, kemampuan berbahasa baik, dan pengendalian emosional secara seimbang sangat menentukan keberhasilan dalam perkembangan sosial anak.
Sikap saling pengertian dan kemampuan memahami orang lain merupakan modal utama dalam kehidupan sosial dan hal ini akan dengan mudah dicapai oleh remaja yang berkemampuan intelektual tinggi.

C.     Tujuan Sosialisasi
Melihat begitu pentingnya sosialisasi, Bruce J. Coen membagi tujuan sosialisasi menjadi 4 tujuan pokok, yaitu sebagai berikut:
a.        Memberikan keterampilan yang dibutuhkan seseorang dan dalam kehidupan ditengah – tengah masyarakat.
b.      Menanamkan nilai – nilai pada seseorang dan kepercayaan pokok yang ada di masyarakat.
c.       Mengembangkan kemampuan seseorang untuk berbicara atau berkomunikasi dengan baik.
d.      Mengembangkan kemampuan seseorang mengendalikan dirinya sesuai dengan fungsinya sebagai bagian dari asyarakat dengan seringnya ia mengoreksi perbuatan yang sudah dilakukan, apakah itu benar atau salah. (dalam Niniek dan Yusniati, 2004:108).
Jadi pada hakikatnya sosilalisasi memiliki tujuan untuk memperoleh nilai, norma, pengetahuan dan keterampilan sebagai pedoman dalam kehidupan.  Dengan demikian proses sosialisasi setiap individu diharapkan dapat :
-          Menyesuaikan prilaku yang diharapkan dan dianggap baik oleh masyarakat.
-          Mengenal dirinya dan mengembangkan segala kemampuan dengan lingkungan sosialnya.
-          Mampu menjadi anggota masyarakat yang baik sehingga berguna bagi dirinya dan masyarakat.
-          Memperoleh konsep tentang dirinya. (dalam Niniek dan Yusniati, 2004:109).   
Dapat disimpulkan  Bagi individu : agar dapat hidup secara wajar dalam kelompok masyarakat sehingga tdak aneh dan di terima di masyarkat lain serta dapat berpartisipasi. Sedangkan, Bagi masyarakat : menciptakan keteraturan social melalui penmungsian sosialisasi sbagai sarana pewarisan nilai dan norma serta pengendalian social.

D.     Aspek Perkembangan Sosial Manusia
Perkembangan sosial manusia dilihat dari dua aspek yaitu :
1. Aspek biologi yaitu perkembangan individu mulai dari bayi, anak-anak, remaja dan akhirnya menjadi orang dewasa. Inilah yang disebut perkembangan jasmaniah.
2. Aspek personal sosial yaitu perkembangan pribadi individu . perkembangan sosial memiliki dua aspek yaitu proses belajar sosial atau proses sosialisasi dan proses pembentukan kesetiaan sosial. Ada dua dasar proses belajar sosial manusia atau yang biasa disebut proses sosialisasi yaitu :
a). Sifat tergantung manusia terhadap manusia lain, dimana telah diketahui bahwa tidak ada individu yang dapat hidup sendiri tanpa bantuan orang lain. Contohnya pada masa bayi manusia tergantung dari pertolongan orang tunya, begitu pula setelah ia dewasa manusia memiliki rasa saling ketergantungan dengan manusia lain.
b). Sifat adaptabilita dan intelegensi, dimana manusia memiliki kemampuan untuk menyesuaikan diri yang tentunya dilengkapi dengan intelegensi. Oleh karena itu ia mampu mempelajari bermacam-macam tingkah laku sosial.
Proses belajar sosial ini berlangsung sepanjang umur (life long process), bermula sejak manusia lahir hingga mati. Proses sosialisasi ini berlangsung dalam kelompok ataaupun lembaga di masyarakat. Dalam mempengaruhi sosialisasi anak ada beberapa metode yang dipakai orang dewasa, yaitu :
1. Metode ganjaran dan hukuman
Tingkah laku yang salah pada anak diberi hukuman dan yang benar diberi ganjaran atau hadiah. Dengan adanya hukuman anak akan menyadari kesalahannya dan berusaha untuk memperbaikinya. Sedangkan dengan adanya ganjaran atau hadiah bahwa perilakunya benar dan perlu dipertahankan.
2. Metode pemberian contoh
Orang dewasa mengajarkan berbagai contoh kepada anak. Anak akan mencontoh apa yang dilakukan orang dewasa sehingga terjadi proses imitasi yang juga erat kaitanya dengan proses identifikasi terhadap tingkah laku orang dewasa tersebut.
3. Metode pendidikan pengajaran                                      
Orang dewasa mengajarkan berbagai pengetahuan dan keterampilan kepada anak baik melalui pemberian informasi, ceramah ataupun penjelasan.
Proses sosialisasi sendiri dikenal melalui tiga tahap , yaitu :
A.      Proses Internalisasi
Proses ini merupakan suatu proses panjang dan berlangsung seumur hidup, sejak manusia lahir sampai ia meninggal dunia. Manusia mempunyai bakat yang telah terkandung di dalam dirinya untuk mengembangkan berbagai macam perasaan, hasrat,nafsu, serta emosi dalam kepribadian individunya. Akan tetapi, wujud pengaktifan berbagai macam isi kepribadiannya itu sangat dipengaruhi oleh berbagai macam stimulus yang berada dalam alam sekitarnya dan dalam lingkungan sosial maupun budayanya. Setiap hari dalam kehidupan individu akan bertambah pengalamannya tentang bermacam-macam perasaan baru, maka belajarlah ia merasakan kebahagiaan, kegembiraan, simpati, cinta, benci,keamanan,harga diri,kebenaran, rasa bersalah, dosa, malu, dsb. Selain perasaan tersebut berkembang pula berbagai macam hasrat seperti hasrat mempertahankan hidup. Untuk menikmati keindahan semua itu dapat dipelajari melalui prosesninternalisasi yang menjadi ,ilik kepribadian individu.
B.     Proses Sosialisasi
Proses ini artinya suatu proses dimana seorang individu mendapatkan pembentukan sikap untuk berperilaku sesuai dengan kelakuan kelompoknya. Maka kepribadian adalah keseluruhan faktor biologis, psikologis dan sosilogis yang mendasari perilaku individu.
Proses sosialisasi terjadi melalui dua cara yaitu:
a. Conditioning.
b. Komunikasi atau interaksi.
Conditioning, adalah keadaan yang menyebabkan individu mempelajari pola kebudayaan yang fundamental seperti cara makan, bahasa, berjalan, cara duduk, pengembangan tingkah laku dan sebagainya.
C. Proses Inkulturasi
Dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai pembudayaan yaitu seorang individu yang mempelajari dan menyesuaikan alam pikiran serta sikapnya dengan adat istiadat, sistem nora dan peraturan-peraturan yang hidup dalam kebudayaanya. Individu sejak kecil sudah mengawali proses inkulturasi dalam alam pikiran mereka sebagai warga suatu masyarakat. Mula-mula dimulai dari lingkungan keluarganya, kemudian dari teman-teman mainnya. Selain itu ia sering belajar dengan meniru berbagai macam tindakan. Namun, sebelumnya perasaan dan nilai budaya yang meberi motivasi akan tindakan meniru itu telah diinternalisasikan dalam kepribadiannya. Dengan berkali-kali meniru, maka tindakannya akan menjadi suatu pola yang mantap dan norma yang mengatur tindakannya itu untuk dibudidayakan. Berbagai macam norma kadang juga dipelajari seorang individu secara sebagian demiu sebagian dengan mendengarkan orang-orang di dalam lingkungan pergaulan pada saat yang berbeda-beda. Sudah tentu ada juga norma-norma yang diajarkan kepadanya dengan sengaja, tidak hanya di lingkungan keluarga dan di luar keluarga saja, tetapi juga secara formal.
E.      Perkembangan Tingkah laku Kelompok
Perkembangan sosial melalui kelompok terjadi karena partisipasi sosial dalam peranan anak dalam kelompok sebaya terjadi melalui beberapa tahap :
1.      Tahap permainan soliter : Pada tahap ini anak bermain sendiri dimana anak memperlakukan teman sebayanya sebagai benda.
2.      Tahap permainan semi soliter/permainan parallel : Ketika anak berumur 2 tahun, dia bermain sendiri walaupun ada teman sebaya disekitarnya.
3.      Tahap permainan kooperatif : Pada tahap ini anak mulai melakukan kegiatan bersama-sama dalam kelompok sebayanya, biasanya berjumlah kelompok kecil 3-5 orang
4.      Fase permainan khayal : Pada fase ini (ketika anak berusia 3-5 th) anak menirukan peranan-peranan yang serupa dengan orang dewasa. Pada anak mulai berkembang konsep tentang dirinya dan orang lain sering kali bersifat tak konsisten atau selalu berubah-ubah
5.      Fase bermain kelompok : Pada fase sudah berkembang kepatuhan pada kelompok pimpinan dan merupakan perkembangan dari fase-fase sebelumnya.
6.      Permainan Tim yang terorganisasi (10-14) orang. : Kelompok pada fase ini sudah terorganisasi, mempunyai aturan-aturan, upacara atribut dan sebagainya.
7.      Fase setelah masa pubertas : Pada fase ini jumlah anggota kelompok sangat kecil dan bersifat homogen dan terbentuk atas dasar kesamaan minat.
Perkembangan sosial ini berlangsung terus hingga anak menjadi orang dewasa. Keberhasilan seseorang dalam melalui tahapan-tahapan ini akan terlihat dari peranan sosialnya setelah ia dewasa. Orang dewasa akan berperan dalam kelompoknya sesuai dengan tujuan yang hendak ia capai dalam memasuki suatu kelompok. Pada umumnya orang dewasa akan mudah menyesuaikan diri dengan kehidupan kelompok apabila ada persamaan nilai kelompok dengan yang dianutnya. Timbul perpecahan-perpecahan dalam kelompok yang biasanya disebabkan oleh benturan-benturan nilai antara sesama anggota kelompok.
F.      Masalah/ Realita di Lapangan
Proses sosialisasi pada anak balita.
Pada tahap persiapan di usia balita adalah tahap dimana seorang anak mempersiapkan diri untuk mengenal dunia sosialnya, termasuk untuk memperoleh pemahaman tentang diri. Pada tahap ini juga anak-anak mulai melakukan kegiatan meniru meski tidak sempurna.
Pengasuhan anak yang dilakukan sepenuhnya oleh keluarga membuat apa yang diajarkan dan diharapkan oleh keluarga kepada anak dapat dilihat dan diterima oleh anak karena orang tua dapat memantau dan mengontrol perkembangan anak. Misalnya, orang tua mengajarkan pada anak untuk mengucapkan kata “ibu” dan anak mampu mengucapkannya “buk”. Makna kata tersebut juga belum dipahami tepat oleh anak. Lama-kelamaan anak memahami secara tepat makna kata “ibu” tersebut dengan kenyataan yang dialaminya.
  • Desa : proses sosialisasi anak balita pada masyarakat desa dilakukan secara penuh oleh agen sosialisai utama yaitu keluarga. Pada umumnya, perempuan di desa yang sudah menikah tidak bekerja dan hanya mengurus keperluan rumah tangga sehingga ketika dalam sebuah keluarga memiliki anak maka urusan pengasuhan anak dilakukan sepenuhnya oleh ibu.
  • Kota : pada masyarakat kota urusan pengasuhan anak tidak sepenuhnya dilakukan oleh ibu. Kehidupan kota yang menuntut biaya hidup yang lebih mahal daripada di desa serta kedudukan wanita yang sama oleh lelaki karena telah memiliki pendidikan membuat banyak wanita kota yang bekerja untuk menopang perekonomian keluarganya. Sehingga banyak ibu-ibu rumah tangga yang memiliki anak balita menyerahkan pengasuhan anaknya kepada baby sister, tetangga, maupun keluarga terdekatnya dikarenakan tuntutan
Proses pengenalan kebiasaan-kebiasaan pada tahap persiapan bagi anak harus terjalin kerjasama antara orang tua dengan pengasuh anak. Agar harapan-harapan orang tua terhadap anak dapat terbentuk. Misalnya, orang tua mengajarkan untuk makan tepat waktu kepada anaknya dan hal tersebut disampaikan kepada pengasuhnya kemudian pengasuh dapat melanjutkan dan menerapkan kebiasaan tersebut     kerja yang tidak memungkinkan ibu bisa selalu berada dirumah dan mengasuh anaknya.
Proses sosialisasi pada remaja.
Masa remaja ditinjau dari rentang kehidupan manusia merupakan masa peralihan dari masa kanak-kanak ke dewasa. Sifat-sifat remaja sebagian sudah tidak menunjukkan sifat-sifat masa kanak-kanaknya, tetapi juga belum menunjukkan sifat-sifat sebagian orang dewasa. Hurlock (1991: 206), menyatakan awal masa remaja berlangsung kira-kira dari 13 tahun hingga 16 atau 17 tahun, sampai 18 tahun, yaitu usia yang matang secara hukum.
Peniruan yang dilakukan sudah mulai berkurang dan digantikan oleh peran yang secara langsung dimainkan sendiri dengan penuh kesadaran. Kemampuannya menempatkan diri pada posisi orang lain pun meningkat sehingga memungkinkan adanya kemampuan bermain secara bersama-sama. Dia mulai menyadari adanya tuntutan untuk membela keluarga dan bekerja sama dengan teman-temannya. Pada tahap ini lawan berinteraksi semakin banyak dan hubunganya semakin kompleks. Individu mulai berhubungan dengan teman-teman sebaya di luar rumah. Peraturan-peraturan yang berlaku di luar keluarganya secara bertahap juga mulai dipahami. Bersamaan dengan itu, anak mulai menyadari bahwa ada norma tertentu yang berlaku di luar keluarganya.
  • Desa : proses sosialisasi anak pada usia remaja di desa, pergaulan dan interaksi sosial dengan teman sebaya bertambah luas dan pengaruhnya cukup kuat. Sehingga anak banyak mendapatkan pengalaman baru maupun pengaruh di lingkungan sosialnya bersama dengan teman-teman sebayanya, lingkungan pendidikan, maupun media massa. Namun, teman sebaya sangat berperan besar terhadap proses sosialisasi remaja di desa. Anak mendapat nilai-nilai baru dari teman-teman sebayanya sehingga anak belajar juga untuk menyesuaikan atau memfilter hal-hal yang baik baginya. Karena pada usia ini anak memiliki rasa ingin tahu yang tinggi maka orang tua perlu mengontrol perkembangan dan lingkungan pergaulan anak agar anak tetap berada pada koridor yang benar sesuai dengan ajaran/nilai/norma yang telah diajarkan oleh orang tua.

  • Kota : proses sosialisasi anak pada usia remaja di kota, pengaruh teman sebaya, lembaga pendidikan maupun media massa sama kuatnya terhadap proses sosialisasi pada anak remaja di kota. Remaja di kota juga banyak menghabiskan waktunya bersama dengan teman sebayanya dengan jalan-jalan di mal maupun nongkrong-nongkrong bersama. Lembaga pendidikan juga berpengaruh terhadap perilaku, menambah pengetahuan dan ketrampilan anak. Anak remaja kota yang pada umumnya sudah mengenal teknologi dan media massa sangat berpengaruh terhadap proses sosialisasinya. Efek negatif yang ditimbulkan dengan adanya televisi, internet, handphone, majalah, dll membuat anak banyak menghabiskan waktu di rumah dan tidak bersosialisasi dengan tetangganya sehingga anak memiliki kepribadian cenderung tertutup bahkan kurang peduli terhadap lingkungan sekitar tempat tinggalnya
Proses sosialisasi pada orang dewasa.
  • Desa dalam tahapan proses sosialisasi manusia dewasa telah berada pada tahap penerimaan norma kolektiv. Pada tahap ini seseorang sudah dapat menempatkan dirinya pada posisi masyarakat secara luas. Dengan kata lain, ia dapat bertenggang rasa tidak hanya dengan orang-orang yang berinteraksi dengannya tapi juga dengan masyarakat luas. Manusia dewasa menyadari pentingnya peraturan, kemampuan bekerja sama–bahkan dengan orang lain yang tidak dikenalnya– secara mantap. Manusia dengan perkembangan diri pada tahap ini telah menjadi warga masyarakat dalam arti sepenuhnya.
Pada masyarakat desa, orang dewasa mampu bekerjasama dalam melaksanakan kegiatan di desa, misalnya kerja bakti. Selain itu ia dapat bekerja mencari nafkah bagi dirinya sendiri maupun keluarganya.
  • Kota : pada masyarakat kota, manusia dewasa harus siap berada pada situasi-situasi yang baru karena mobilitas yang cukup tinggi. Ia harus mampu bekerjasama dalam lingkungan kerjanya dan lingkungan sosial. Karena manusia dewasa sudah berada pada tahap penerimaan norma kolektiv makan ia mampu menyesuaikan diri dalam situasi apapun, ia juga harus mampu memfilter hal-hal yang baik bagi dirinya, karena masyarakat kota adalah masyarakat yang majemuk



Proses sosialisasi pada orang tua.

  • Desa :proses sosialisasi pada orang tua di desa adalah bahwa orang tua mampu menjadi panutan bagi orang-orang yang lebih muda darinya. Dalam hal ini orang tua harus mampu mengajarkan, membimbing, dan “ngemong” orang-orang yang lebih muda, terutama dalam hal perilakunya. Orang tua yang telah mengalami proses sosialisasi yang cukup panjang diharapkan dapat memegang teguh nilai dan norma yang berlaku di masyarakat sehingga orang-orang yang lebih muda dapat mencontoh perilakunya.
Misalnya, dalam hal sopan santun orang Jawa. Orang tua pasti fasih berbicara bahasa Jawa yang baik dan benar. Ketika berbicara dengan orang yang lebih tua maka menggunakan bahasa jawa kromo inggil. Anak-anak muda jaman sekarang banyak yang kurang menguasai bahasa jawa kromo inggil, maka orang tua membimbing dan mengajarkan bagaimana berbicara dalam bahasa jawa yang baik dan benar.
  • Kota: proses sosialisasi pada orang tua di kota, cenderung untuk lebih santai dan menikmati kerja. Karena sebelumnya, orang kota sibuk dengan pekerjaannya. Di usia tua orang tua bisa santai bekerja atau memberikan usaha yang dijalankannya kepada anaknya sehingga ia lebih menikmati hari-hari tuanya bersama keluarganya, mengasuh cucunya dan menularkan kebiasaan/norma yang berlaku dalam keluarganya.


BAB III

PENUTUP


A. Simpulan

1. Proses sosialisasi terjadi melalui proses interaksi sosial yaitu hubungan antar manusia yang menghasilkan adanya proses pengaruh mempengaruhi. Melalui proses sosialisasi ini maka dengan sendirinya akan terbentuk dalam masyarakat kelompok-kelompok sosial.

2. Manusia dituntut untuk dapat menyesuaikan diri baik dengan lingkungan fisik maupun lingkungan sosialnya.

3. Faktor-faktor yang mempengaruhi proses sosialisasi yaitu : Sifat dasar, Lingkungan prenatal, Perbedaan individu, Lingkungan, Motivasi.

4. Aspek-aspek perkembangan sosial terbagi menjadi aspek biologis dan aspek personal sosial.

5. Perkembangan kesetiaan sosial ini bersumber dari partisipasi, komunikasi dan kerjasama individu dalam kehidupan kelompok.

6. Perkembangan sosial melalui kelompok terjadi karena partisipasi sosial

7. Pada dasarnya keluarga memiliki banyak fungsi dimana fungsi-funsi tersebut harus dijalankan secara utuh. Fungsi-fungsi tersebut yaitu funsi kasih sayang, fungsi komunikasi, fungsi perlindungan, fungsi rekerasi, fungsi agama dan fungsi sosial.

8. Keluarga adalah satuan unit terkecil dalam masyarakat, dimana para anggotanya salaing berinteraksi untuk mencapai tujuan hidupnya.

9. Keluarga sebagai unit lembaga terkecil dalam masyarakat merupakan cerminan dari struktur sosial dalam masyarakat. Keluarga sebagai unit terkecil dalam masyarakat mengalami perubahan dalam proses sosial dalam waktu sesuai dengan perkembangan jaman


B. Saran

Sesuai dengan pembahasan sebelumnya, penulis memberikan saran antara lain:
1. Hendaknya setiap individu mampu mengadakan sosialisasi dengan baik agar mampu mengaplikasikan dirinya dalam masyarakat.
2. Kita harus memiliki motivasi yang kuat, karena motivasi itu sendiri dapat mempengaruhi tingkah laku atau sosialisasi setiap individu

DAFTAR PUSTAKA


Ahmadi, A. 2004. Psikologi Sosial. Edisi Revisi. Jakarta : Rieneka Cipta

Mahmud, M. Dimyati. 1989. Dasar – Dasar Sosiologgi Pendidikan. Yogyakarta : FIP - IKIP Yogyakarta

St. Vebrianto. 1982. Sosiologi Pendidikan. Yogyakarta: Yayasan Pendidikan Paramita.

http://id.wikipedia.org/wiki/Sosialisasi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar